Minggu, 03 Februari 2013

GEOGRAFI TUMBUHAN DAN HEWAN


PENGARUH PRODUKSI GARAM DISEKITAR TAMBAK IKAN DAN UDANG TERHADAP BUDIDAYA UDANG WINDU DI PESISIR UTARA GERONGAN KRATON
KABUPATEN PASURUAN

Novita Anis Sholihah
Universitas Negeri Malang
E-mail: novitaanissholihah@ymail.com

ABSTRAK: Kegagalan budidaya udang windu dialami oleh masyarakat Desa Gerongan yang lokasi tambaknya berdekatan dengan tambak garam. Jurnal ini ditulis untuk mengetahui pengaruh adanya tambak garam disekitar tambak budidaya ikan terhadap perkembangbiakan udang windu untuk kemudian diberikan solusi yang tepat. Metode yang akan dilakukan dalam penulisan jurnal ini adalah kajian pustaka penelitian data sekunder. Data yang diambil dari buku yang berjudul budidaya udang windu, budidaya ikan dan udang ditambak, Proses Pembentukan Kristalisasi Garam, Prototip Informasi Iklim dan Cuaca untuk Tambak Garam, dan dari sumber lainnya yang mendukung isi jurnal. Hasil yang diperoleh, yaitu keberadaan tambak garam di sebelah atau berdekatan dengan tambak budidaya ikan dan udang memiliki pengaruh pada perkembangbiakan udang windu. Udang windu yang dibudidaya tidak bisa besar dan pada saat panen hasil yang didapat sedikit. Karena kadar garam yang terpengaruh dari tambak garam terlalu tinggi untuk kehidupan udang yang mencapai 35-50 permil. Sedangkan udang windu dapat hidup di air payau dengan kadar garam 15-30 permil.

Kata Kunci: tambak garam, udang windu, pengaruh.

Manusia adalah makhluk hidup pemakan tumbuhan maupun hewan, bahkan mikroorganisme. Pada masa sekarang ini manusia telah menjadi salah satu spesies organisme heterotrof yang paling dominan di planet bumi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya telah memungkinkan manusia berfikir bagaimana mengolah dan memanfaatkan segala sesuatu yang ada di lingkungannya. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kepentingan dan keperluan hidupnya. Seperti pemanfaatan lahan potensial untuk perikanan di wilayah pesisir.
Potensi lahan di kawasan pesisir pantai yang terdapat di wilayah Indonesia cukup memadai. Memungkinkan sekali untuk dikembangkan dalam usaha budidaya perikanan dan produksi garam. Berbagai jenis ikan untuk perairan darat seperti ikan udang, ikan bandeng, ikan kerapu, ikan mujahir dan sejenisnya yang telah banyak diminati untuk dibudidayakan. Mengingat jenis-jenis ikan tersebut mempunyai nilai jual yang lebih tinggi (Mizar, 2011). Wilayah pesisir utara sangat potensial tambaknya dan juga lingkungannya sangat mendukung terutama untuk suplai energi angin. Energi angin sebagai energi terbarukan yang digunakan untuk keperluan produksi garam.
            Dalam rangka mencari bentuk-bentuk sumber energi yang bersih dan terbarukan, energi angin mendapat perhatian yang besar. Angin merupakan energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk keperlusn hidup manusia. Di Indonesia pada dasarnya memiliki potensi angin yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber tenaga, walaupun jumlah energinya lebih rendah dibanding negara lain (Kadir, 2001). Disamping ketersediaan energi angin yang berkelanjutan potensi energi angin sangat sesuai untuk teknologi pertanian karena keberadaannya diperoleh dimana-mana (Kawamura, 1986). Berkaitan dengan angin, Indonesia memiliki potensi energi angin yang baik untuk dikembangakan, namun masalah yang belum terselesaikan secara tuntas adalah bagaimana pola pemanfaatan energi tersebut (Djoyohadihardjo, 1980).
            Sebagian besar tambak garam maupun tambak ikan banyak dikembangkan didaerah pesisir pantai yang rata-rata memiliki energi angin yang cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai suplai energi. Melihat kondisi yang potensial tersebut masyarakat pesisir utara Kabupaten Pasuruan tidak mau ketinggalan untuk bisa memanfaatkan tambaknya berproduksi garam. Tidak sedikit masyarakatnya yang menyewakan tambaknya untuk produksi garam, bahkan ada yang berproduksi sendiri. Namun, keberadaan produksi garam disebelah tambak budidaya ikan dirasakan mempengaruhi tumbuhnya ikan-ikan yang dibudidayakan terutama udang windu. “Udang windu dapat hidup di air payau dengan kadar garam 15-30 permil”, (Soeseno, 1983).
            Udang windu sampai saat ini merupakan komoditas primadona dari subsektor perikanan. Pengembangan teknologi budidaya yang dilakukan tanpa dasar ilmiah yang kokoh menyebabkan kegagalan. Banyak usaha budidaya udang windu mengalami kegagalan lebih dari 60% (ahmad, dkk, 2001). Kegagalan budidaya udang windu juga dialami oleh masyarakat Gerongan Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Menurut gogol tambak kegagalan disebabkan karena tingkat keasinan air yang terlalu tinggi melebihi kepayauan air laut. Dalam hal ini perlu dilakukan penelitian kepustakaan lebih lanjut.
            Penulisan jurnal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh adanya tambak garam disekitar tambak budidaya ikan terhadap perkembangbiakan udang windu. Setelah diketahui ada pengaruh atau tidak, jika ada pengaruh diberikan solusi pemecahannya. Solusi ditujukan untuk memberi manfaat bagi gogol tambak, wong angguran, atau wong manukan serta pihak yang membutuhkan informasi terkait.

METODE PENELITIAN
Metode yang akan dilakukan dalam penulisan jurnal ini adalah kajian pustaka atau penelitian data sekunder. Data diambil dari 6 buku terkait isi dalam jurnal, penulis juga download informasi tambahannya di situs layanan Internet. Data dalam buku dan hasil download kemudian dianalisis sehingga menghasilkan informasi yang tepat terkait dengan judul dan isi jurnal. Dari hasil yang akan didapat diharapkan bisa bermanfaat bagi pihak terkait.
Buku yang dijadikan referensi memberikan informasi terkait isi dalam jurnal ada 6 buku; pertama Budidaya Udang Windu tahun 2001 oleh S. Rachmatun Suyanto dkk.  Ke-dua, Budidaya Bandeng Secara Intensif tahun 2000 oleh Taufik Ahmad. Ke-tiga Budidaya Ikan dan Udang dalam Tambak tahun1988 oleh Slamet Soeseno. Ke-empat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Pantura melalui Implementasi Kincir Angin dalam Meningkatkan Produksi Garam tahun 2009 oleh M.Alfian Mizar. Ke-lima Proses Pembentukan Kristalisasi Garam tahun 2011 oleh Dini Purbani. Ke-enam Prototip Informasi Iklim dan Cuaca untuk Tambak Garam tahun 2005 oleh Sugiarta Wirasantosa.

TIPE GOLONGAN TAMBAK PESISIR UTARA GERONGAN KRATON PASURUAN
Tambak yang ada Pesisir Utara Desa Gerongan Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan memiliki dua tipe golongan, yaitu Tambak Lanyah dan Tambak Biasa. Dibagian sebelah lautnya / tambak paling belakang sendiri jika ditempuh / dilihat dari pemukiman penduduk merupakan Tambak Lanyah. Sedangkan di tambak yang paling depan sendiri dinamakan Tambak Biasa yang mana biasanya tambak bagian depan dari pemukiman dibuat Tambak Garam oleh gogol tambak atau wong manukan. Tambak garam bisa dikembangkan di daerah pesisir yang memiliki energi angin yang cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai suplai energi seperti yang ada di Pasuruan.
Penggolongan tersebut ditinjau dari segi letak tambak terhadap laut dan muara sungai yang memberi suplai air, yang mana diketahui ada tiga golongan tambak (Soeseno, 1983). Pertama, Tambak Lanyah; terletak dekat sekali dengan laut, di tepi pantai. Di daerah yang datar sekali pantainya, dan perbedaan tinggi permukaan air laut pasang tertinggi dan air surut terendah sangat besar sehingga air laut bisa  menggenangi daerah tambak sampai sejauh 1 ½ km. Tanpa mengurangi salinitas yang mencolok. Sehingga tambak Lanyah berisi air laut yang berkadar garam setinggi 30 permil.
            Ke-dua, Tambak Biasa yang terletak dibelakang tambak Lanyah. Selalu terisi oleh campuran air asin dari laut dan air tawar dari sungai. Air pada tambak ini bisa asin selama tambak diisi dengan air pasang laut yang tinggi. Air akan tawar jika diisi dengan air sungai yang leluasa mengalir ke arah pantai pada saat surut. Setelah kedua air itu ditahan dalam petakan tambak maka air payau yang garamnya mantap berada disekitar angka 15 permil.
            Ke-tiga, Tambak Darat terletak jauh sekali dari pantai laut. Suplai air dapat dipertahankan hanya pada musim hujan. Pada saat musim kemarau, sebagian tambak menjadi kering. Sehingga dalam setahunnya tidak bisa penuh berproduksi ikan/udang. Kadang hanya 6 bulan atau 9 bulan saja. Jadi untuk budidaya ikan/udang tidak memungkinkan karena salinitasnya rendah sekitar 5-10 permil. 

PASURUAN MERUPAKAN WILAYAH POTENSIAL PENGHASIL GARAM
Pasuruan merupakan salah satu sentra garam yang ada di Jawa Timur (Wirasantosa, 2005). Kondisi fisik  yang dimiliki oleh Pasuruan mampu membuat sebagian masyarakatnya yang tinggal di pesisir memanfaatkan kekayaan yang ada (Sholihah, 2012). Wilayah potensial penghasil garam memiliki ketersediaan bahan baku garam yaitu air laut yang sangat cukup, bersih, tidak tercemar dan bebas dari air tawar. Ke-dua, Memiliki iklim kemarau yang cukup panjang (tidak mengalami gangguan hujan berturut-turut selama 4 – 5 bulan). Ke-tiga, Memiliki dataran rendah yang cukup luas dengan permeabilitas (kebocoran) tanah yang rendah dan terakhir emiliki jumlah penduduk yang cukup sebagai sumber tenaga kerja. Dengan menggunakan data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), maka daerah Jawa Timur yang iklim kemarau yang relatif panjang secara berturut-turut adalah Pacitan, Ponorogo, Blitar, Tulung Agung, Trenggalek, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Pasuruan, Pantai Utara Sampang, Pamekasan, Sumenep (Wirasantosa, 2005).

PEMBUATAN TAMBAK GARAM DI PESISIR UTARA GERONGAN KRATON PASURUAN
Pembuatan garam di Kraton Pasuruan kebanyakan dilakukan  di Tambak Biasa yang berada di belakang tambak Lanyah. Hal tersebut dilakukan agar suplai air laut tidak terlalu banyak yang masuk ke petak tambak karena harus dikeringkan. Namun, pada lokasi pembuatan garam ini jauh dari sungai sehingga suplai air tawar relatif kecil. Lokasi sungai ±2 kg dari lokasi pembuatan garam. Terlebih sungai yang ada di Desa Gerongan dibuat jalan/ akses penduduk yang melaut mencari kerang ke laut, sehingga banyak perahu yang diparkir di sepanjang sungai. Jadi, secara langsung berpengaruh pada air tawar yang juga menjadi asin yang menjadikan air tawar yang ada disana tidak layak untuk diminum.
Lokasi tambak pembuatan garam di Desa Gerongan kebanyakan adalah tambak sewa, bukan pemilik tambaknya yang melakukan budidaya garam. Biasanya hanya satu petak tambak saja yang disewa oleh wong angguran. Tambak yang dimiliki gogol tambak tetap dipergunakan untuk budidaya ikan seperti mujaher dan bandeng. Oleh petani tambak yang lebih diutamakan adalah budidaya udang windu. Namun, budidaya udang windu disana kurang bisa berkembang dengan baik, setiap panen menghasilkan udang windu yang relatif kecil padahal sudah 6 bulan dibudidaya. Selain itu juga kuantitas yang dihasilkan tidak sebanding dengan benur yang dilepaskan.
Tambak tempat pembuatan garam disebut reservoir yang dapat berupa buatan manusia maupun ciptaan alam, seperti kolam, tambak, waduk atau danau. Tapi tanah yang pori-porinya halus akan lebih baik karena memiliki dasar yang dapat mencegah air laut serta kandungan mineralnya agar tidak banyak meresap ke dalam tanah. Kemudian hamparan air laut dijemur oleh panas matahari sampai warna air berubah merah. Dalam skala luas dan lebih murah menggunakan penguapan matahari untuk membuat garam. Sehingga, dibutuhkan cuaca yang panas atau pada saat musim kemarau, jika di musim hujan prosesnya akan sulit.
Setelah mengeringkan air garam sudah waktunya untuk menguras air garam ketika air berubah menjadi merah. Warna merah berasal dari alga yang berubah warna akibat konsentrasi garam yang semakin tinggi. Pengurasan air garam ditujukan ke kolam kristalisasi atau tempat pengasinan. Di kolam kristalisasi ini natrium klorida garam akhirnya mengkristal di dasar kolam. Setelah garam mengkristal di bagian bawah reservoir, garam lalu dipanen/dikumpulkan dengan alat garuk. Garam kristal ini masih harus diproses agar bersih dan bisa dipakai, dikemas kemudian dipasarkan. (Daur, 2012)


KEUNGGULAN UDANG WINDU
Dalam usaha pemeliharaan udang secara komersial, yang diutamakan hanyalah udang windu dan udang putih. Kedua udang tersebut bisa mencapai ukuran besar. Selain itu juga mempunyai pasaran yang baik untuk ekspor (Suyanto, 2001). Diantara udang putih dan udang windu, ternyata udang windu yang lebih banyak menarik perhatian masyarakat. Padahal jika dilihat dari jumlahnya, udang windu tidak termasuk jenis komersial. Hanya karena ukuranya yang besar menjadikan udang windu lebih unggul harganya daripada udang lain.
            Dintinjau dari daya tahannya terhadap pengaruh lingkungan, udang windu juga lebih unggul walaupun hanya menduduki peringkat kedua setelah udang werus (Suyanto, 2001). Udang werus menempati peringkat pertama karena kadang-kadang masih tetap hidup walaupun sudah dijual di pasar-pasar. Udang windu juga kadang-kadang ada yang masih tetap hidup meskipun tidak di air namun kuantitasnya lebih bnyak udang werus. Dalam dunia perdagangan udang windu dikenal dengan nama “tiger prawn” atau “jumbo tiger prawn”.
            Dengan daya tahannya yan tinggi terhadap pengaruh lingkungan, memungkinkan masyarakat untuk memelihara udang windu dalam waktu yang cukup (5-6 bulan). Dengan lamanya pemeliharaan udang windu bisa mencapai ukuran besar (king size), yaitu antara 80-100 gram/ekor. Sedangkan udang putih paling lama hanya dapat dipelihara selama 3 bulan. Menyebabkan ukurannnya tidak sebesar udang windu.
Selain karena pengaruhnya terhadap lingkungan, udang windu memiliki kelebihan dalam hal  pemeliharaan benih. Udang windu tahan selama selama dalam penampungan dan pengangkatan. Hal tersebut tentu sangat membantu dalam usaha perdagangannya. Sehingga bila masyarakat ingin menangani usaha pengadaan benih tidak terlalu direpotkan dan masih bisa mendapa keuntungan. Namun, dalam pemeliharaan udang windu harus tetap dilakukan pemantauan (monitoring). Pemantauan terhadap pertumbuhan dan derajat kehidupan udang serta kualitas airnya (Suyanto, 2001).
POTENSI LAHAN BUDIDAYA UDANG WINDU, PASURUAN.
Bagian utara Kabupaten Pasuruan yang didominasi oleh daerah pantai, mampu menghasilkan potensi kelautan dan perikanan yang memiliki nilai jual cukup tinggi dipasaran. Budidaya udang vannamei dan udang windu mulai dibudidayakan di empat wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Bangil, Kraton, Rejoso serta Kecamatan Lekok dengan luas lahan sekitar 3.966,9 Ha. Budidaya rumput laut juga mulai dikembangkan di kecamatan Bangil, Kraton, Rejoso dan Lekok dengan memanfaatkan luas pantai sekitar 225 Ha (WordPres, 2012).
Udang windu dan berbagai jenis udang laut yang dapat hidup di air payau memungkinkan untuk dibesarkan di tambak. Pertambakan di Indonesia dibuat disepanjang pantai yang semula berupa rawa hutan bakau. Dengan perkembangan teknologi budidaya modern, lahan pantai yang berpasir perlahan padas. Tanah gambut dapat dibuat pertambakan untuk ekspor. Di Indonesia, terdapat ± 250.000 ha tambak yang telah diusahakan untuk memelihara Ikan Bandeng dan Udang Windu (Suyanto, 2001). Di Pasuruan sekitar tahun 2005 di tanggul-tanggul pertambakan masih banyak pohon bakau yang tumbuh, namun sekarang pertambakan di wilayah tersebut seolah sudah seperti tambak Darat yang teletak jauh dari pantai.
            Tambak-tambak untuk lahan budidaya udang selalu dibuat ditepi pantai, karena memerlukan pengairan. Untuk pengairan diperlukan air laut yang bercampur dengan air tawar sehingga sifatnya payau dan sedikit asin. Di Indonesia, luas lahan dataran pantai yang potensial untuk dibuat tambak, khususnya yang terdiri dari Hutan Bakau ada ±4,3 juta ha (Direktorat Jendral Perikanan dengan Pusat Penelitian Perikanan). Namun, tidak seluruhnya Hutan Bakau boleh diubah menjadi tambak melainkan dicadangkan 10-20% (Suyanto, 2001). Hal tersebut dilakukan agar keseimbangan ekologi pantai tidak terganggu.
            Hutan bakau harus dipelihara kelestariannya, karena berfungsi sebagai pelindung pantai dari pukulan ombak dan angin kencang. Wilayah rawa berhutan bakau di sepanjang pantai merupakan areal tempat kehidupan benih bermacam-macam jenis udang, kepiting, ikan kerang-kerangan, dan sebagainya. Apabila hutan bakau dimusnahkan, menurut para ahli lingkungan berbagai flora dan fauna yang menjadi sumber kehidupan manusia akan punah. Kekayaan dan  kesuburan perairan laut dan pantai sangat dipengaruhi oleh kelestarian hutan bakau tersebut. Jadi, sebagai generasi penerus bangsa seharusnya juga memikirkan lingkungan sekitar.

KUALITAS AIR TAMBAK BUDIDAYA UDANG WINDU
            Parameter atau gejala kualitas air dapat dipantau oleh petani. Kualitas air meliputi kadar garam air, kecerahan, suhu, pH. Kadar gas-gas yang mencerminkan air seperti ammonia, asam sulfida, dan gas methan. Kadar gas tersebut sulit dipantau oleh petani karena membutuhkan peralatan khusus yang harganya relatif mahal yaitu “water analysis kit”. Petani mungkin hanya dapat melihat dan mencium bau tidak sedap dan air yang hitam atau berbusa. Kriteria tersebut menandakan kualitas air yang jelek dan perlu diganti (Mojiman, 2001).
            Alat untuk mengukur kadar oksigen dan karbon dioksida terlarut dalam air juga relatif mahal. Petani tidak dianjurkan untuk membeli peralatan tersebut. Kadar senyawa tersebut dapat diperkirakan dengan cara melihat tingkah laku udang pada waktu siang atau malam  hari. Dapat juga dilihat dari warna air yang ada dalam tambak udang. Bila air berwarna hijau pekat karena pertumbukan plankton yang terlalu lebat, bisa diambil tindakan dengan pemasangan kincir angin atau pergantian air (Suyanto, 2001).
            Kadar garam air juga bisa diukur dengan menggunakan alat “refraktometer”. Alat tersebut tidak mudah rusak atau pecah kecuali jika terbanting. Selain itu juga ada alat lain yang harganya jauh lebih murah dan sudah bisa dibuat didalam negeri yaitu “hidrometer”. Agar hasilnya tepat hidrometer harus dikalibrasi terhadap perubahan suhu. Terlebih hidrometer dapat dibuat sendiri oleh petani tambak (Daur, 2012). Sehingga, jika ingin meneliti kadar garam tambanya dengan biaya yang sedikit bisa membuat alat pengukur sendiri.
            Selain kadar garam, dilihat pH / parameter untuk derajat keasaman air tambak juga. Nilai pH dibawah 7,0 adalah asam, diatas 7,0 adalah basa atau alkalis, dan 7,0 adalah netral. Untuk tambak udang pH yang dibutuhkan adalah 8,0-9,5. Petani perlu memantau pH air karena pH bisa berubah karena berbagai sebab. pH air dapat dipengaruhi oleh sifat tanah yang mengandung pirite dan meningkatnya benda-benda membusuk dari sisa pakan atau binatang air.
            Air untuk tambak udang seharusnya diambilkan untuk air payau yang jernih, tidak keruh oleh lumpur. Bila pantai atau muara sungai sebagai asal air tambak keadaannya keruh, air harus diendapkan dulu di kolam pengendapan. Menurut ketentuan, batas kekeruhan yang dianggap cukup baik  adalah bila angka Secchi Disc antara 25-45 cm. Bila kurang dari 25 cm fitoplankton terlalu pekat maka sebagian air tambak harus dibuang dan diganti dengan yang jernih. Bila angka lebih besar dari 45 cm air terlalu cerah dan tidak baik untuk kehidupan udang (Suyanto, 2001). Jadi, kecerahan air harus tetap dipantau oleh petani tambak agar menghasilkan kualitas dan kuantitas udang yang bagus.
            Kualitas air yang perlu diperhatikan lagi adalah suhu air. Dengan adanya insolasi, suhu air selalu naik turun sepanjang hari. Disiang hari, pada tambak yang dalam suhu air dipermukaan lebih tinggi daripada air dibawah permukaan. Perbedaan suhu lebih dari 2oC kurang baik untuk kehidupan udang sehingga perlu diaduk dengan menggunakan kincir. Suhu air normal di tambak daerah tropis seperti Indonesia berkisar antara 25-32oC. Jadi, di malam hari dingin dan di siang hari panas terik.

KADAR GARAM TAMBAK BUDIDAYA UDANG WINDU
Kadar garam merupakan salah satu kualitas air yang penting karena mempengaruhi kecepatan pertumbuhan udang. Udang yang masih muda, berumur 1-2 bulan memerlukan kadar garam 15 - 25 permil (air payau) agar pertumbuhannya optimal. Apabila kadar garam lebih tinggi pertumbuhannya akan terhambat. Akan tetapi apabila umurnya sudah lewat dari 2 bulan, pengaruhnya tidak seperti pada usia sebelum 2 bulan. Pertumbuhan udang dewasa tetap baik pada kadar garam 25-30 permil. Pada kadar garam lebih dari 40 permil udang sudah tidak bisa tumbuh lagi (suyanto, 2001).
            Mengingat sifat udang yang tidak stabil dengan salinitas, sebaiknya kadar garam dalam tambak diusahakan agar tetap berkisar antara 15 – 25 permil (Daur, 2012). Namun, jika kadar garam tambak berkisar 0-15 permil, udang windu juga masih ada yang bisa hidup tetapi produktivitasnya sangat rendah (Suyanto, 2001). Lagipula tambak dengan kadar garam rendah bisa banyak gangguan berupa tumbuh-tumbuhan pengganggu seperti ganggang sehingga harus setiap kali dibuang. Kenyataan yang terjadi dengan kadar garam yang rendah dapat menimbulkan adanya hama dan penyakit pada udang windu. Jadi, untuk kadar garam tambak udang windu harus lebih diperhatikan oleh para petani udang windu.
Perhatian terhadap budidaya udang windu dapat dilakukan dengan cara menambahkan air tawar bila kadar garam cenderung naik dan menambahkan air laut bila kadar garam cenderung turun. Idealnya di pertambakan seharusnya ada kolam tertentu tempat percampuran air laut dan air tawar secara khusus. Sehinggga sebelum air dimasukkan ke dalam petak pemeliharaan udang windu, kadar garam telah disesuaikan menurut kebutuhan udang windu. Perhatian harus senantiasa dilakukan oleh petani tambak udang agar benur yang dibeli dan ditaburkan dapat menghasilkan keuntungan jika panen atau sudah besar-besar
Pada tambak dengan kadar garam tinggi yaitu didekat laut sedangkan suplai air tawar tidak ada udang windu masih bisa dipelihara tetapi harus dengan pergantian air yang teratur. Daya kelarutan oksigen dalam air yang berkadar garam tinggi lebih kecil. Pertumbuhan juga akan lebih lambat dibanding dengan jika kadar garamnya optimal. Jika hujan turun, air tawar yang berasal dari air hujan akan berada diatas air asin karena berat jenisnya. Berat jenis air asin lebih tinggi daripada berat jenis air tawar. Sehingga, memerlukan pembentukan kincir agar kadar garamnya merata di lapisan bawah dan atas.

PENGARUH PRODUKSI GARAM TERHADAP BUDIDAYA UDANG WINDU GERONGAN KRATON PASURUAN
Tambak garam bisa dikembangkan di daerah pesisir yang memiliki energi angin yang cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai suplai energi seperti yang ada di Pasuruan. Pasuruan memiliki kondisi fisik yang mampu menjadikannya sebagai salah satu sentra garam yang ada di Jawa Timur. Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bahwa Pasuruan memiliki musim kemarau yang relatif panjang secara berturut-turut. Hal tersebut menjadi salah satu sebab Pasuruan menjadi salah satu sentra garam di Jawa Timur Indonesia.
Pembuatan garam di Gerongan Kraton Pasuruan kebanyakan dilakukan oleh wong angguran bukan gogol tambak. Tambak yang disewa biasanya hanya satu petak saja karena modal yang dimiliki masih sedikit. Selain itu biasanya para penyewa tambak (wong angguran) memilih tambak Biasa yang berada relatif dekat dengan pemukiman, bukan tambak Lanyah yang dekat dengan laut. Tetapi, para pemilik tambak (gogol tambak) tetap menggunakan tambak yang lainnya untuk budidaya ikan bandeng, mujahir, dan udang windu. Namun, budidaya udang windu kurang bisa berkembang dengan baik dan tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan pada saat panen sehingga mengalami kerugian yang relatif besar. “Budidaya udang penting untuk diketahui salinitasnya daripada budidaya bandeng”, (Ahmad, 1998).
Keberadaan tambak garam disebelah atau berdekatan dengan tambak budidaya udang windu menjadi faktor yang menyebabkan kerugian tersebut. Padahal udang windu dan berbagai jenis udang laut dapat hidup di air payau memungkinkan untuk dibesarkan di tambak. Keuntungan yang didapatkan oleh para gogol tambak seharusnya besar karena udang windu merupakan komoditas primadona subsektor perikanan. Kerugian tersebut membuat para petani harus mengurangi bahkan tidak membeli benur namun hanya nener ikan bandeng atau mujahir.
Kadar garam untuk udang yang masih muda, berumur 1-2 bulan memerlukan kadar garam 15 - 25 permil (air payau) agar pertumbuhannya optimal. Pertumbuhan udang dewasa tetap baik pada kadar garam 25-30 permil. Pada kadar garam lebih dari 40 permil udang sudah tidak bisa tumbuh lagi (suyanto, 2001). Sedangkan Salinitas air dalam waduk/tambak pembuatan garam mencapai 35-50 permil (Purbani, 2011).
Dari data syarat kadar garam udang windu dan kandungan salinitas tambak garam berpengaruh pada perkembangbiakan udang. Tambak garam yang bersebelahan dengan tambak budidaya udang menyebabkan salinitas air tambak garam terlalu tinggi. Air tambak udang yang semula tidak terlalu tinggi salinitasnya menjadi tinggi. Namun untuk tambak yang tidak berdekatan dengan tambak garam dalam perolehan panen udang bisa besar dan sesuai dengan yang diharapkan. Jadi, adanya tambak garam yang bersebelahan atau berdekatan dengan tambak budidaya udang windu berpengaruh pada perkembangbiakan udang windu menjadi tidak bisa produktif.
Salinitas tambak garam bisa mempengaruhi kadar garam tambak udang disebabkan beberapa hal. Pertama, oleh pasang dan surut air laut. Ke-dua, karena perembesan dari pematang yang mana di Gerongan sama sekali tidak ada tambak budidaya ikan yang di semen. Ke-tiga, kebocoran pematang atau dikenal masyarakat Gerongan dengan kata “burus”. Ke-empat, air yang melewati saluran air. Terlebih pematang disana tidak terlalu tinggi, semakin lama semakin menurun dan jarang dilakukan pengedokan.
Perkembangbiakan udang windu yang tidak produktif telah diketahui menyebabkan kerugian pada petani tambak yang tambaknya berdekatan dengan tambak garam. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi produksi tambak udang. Interaksi antarfaktor juga menentukan keberhasilan usaha tambak. Seperti Hutan Bakau yang diubah menjadi tambak. Terlebih di Gerongan dulu pematang/ tanggulnya ditumbuhi pohon bakau, namun sekarang telah dipotong. Padahal di rawa atau sekitar hutan/ pohon bakau di sepanjang pantai merupakan areal tempat kehidupan benih bermacam-macam jenis udang, dan lain-lain.
Persetujuan sewa kontrak tambak membuat gogol tambak tidak bisa berbuat apa-apa pada petani garam. Petani tambak udang harus menemukan solusi lain agar produksi udang windunya tetap lancar seperti petani lain yang tambaknya tidak disewakan untuk pembuatan garam. Memang garam ini belum ada barang substitusinya dan hanya dapat diproduksi dengan menggunakan air laut (Warsito, 2011). Petani tambak garam juga tidak mendapatkan keuntungan yang besar karena keterbatasn biaya. Program Usaha Garam Rakyat (PUGAR) tidak tepat sasaran memberikan bantuan pada petani garam, “yang dibutuhkan para petani garam saat ini adalah biaya untuk pengolahan tambak agar kualitas produksinya meningkat,” ujar Badrus Soleh, petani garam asal Desa Gerongan, Kecamatan Kraton (Kartuji, 2011).

SOLUSI MENGATASI PERKEMBANGBIAKAN UDANG WINDU YANG TIDAK PRODUKTIF AKIBAT SALINITAS AIR
            Melihat pertumbuhan udang windu yang kurang berkembang dengan baik di Tambak Desa Gerongan karena Salinitas airnya harus dipecahkan suatu solusi untuk mengatasinya. Karena udang windu merupakan komoditas primadona dari subsektor pertanian yang bisa mendatangkan keuntungan bagi pengelolanya. Solusi untuk mengatasinya antara lain:
1.        Penempatan budidaya udang windu seharusnya lebih dijauhkan dari tambak tempat pembuatan garam. Untuk tambak yang berdekatan dengan tempat pembuatan garam bisa ditaburi nener (Ikan Bandeng) bukan buner (Udang Windu). Misalnya tambak garam ada di petak no.1, maka di petak no.2 seharusnya jangan udang windu, tetapi bandeng atau ikan yang tidak perlu memperhatikan salinitas airnya. Sehingga, antara petani tambak garam dan tambak udang saling diuntungkan. Tidak perlu memutuskan kontrak sewa dengan petani tambak garam karena pastinya akan menimbulkan kerugian disatu pihak saja.
2.        Pergantian air atau pertukaran air adalah tindakan pencegahan atau penanggulangan untuk semua permasalahan yang ada di tambak. Pertukaran tersebut berarti memasukkan oksigen baru, mengencerkan konsentrasi bahan-bahan kotoran, mengencerkan konsentrasi fitoplankton yang padat, memasukkan organisme makanan baru, menambah mineral dan bahan organik, dan mengencerkan konsentrasi jasad-jasad penyebab penyakit. Kadar garam bisa rendah di permukaan air jika hujan turun, maka perlu dilakukan pergantian air.
3.        Penggunaan kincir angin atau percampuran/ pengadukan air secara mekanis agar dapat mensuplai oksigen atau untuk memecahkan lapisan permukaan air tawar. Pengaduk mekanis telah banyak dijual di pasaran. Dalam keadaan darurat dapat pula dipakai mesin tempel perahu yang dimiliki petani tambak.
4.        Memindahkan udang apabila udang di kolam / tambak berhenti tumbuh. Udang bisa dipindahkan ke dalam tambak lain yang lebih menunjang perkembangbiakan udang.
5.        Memanen udang secara total disarankan sebagai tindakan terakhir apabila sebagian besar udang terserang penyakit. Lebih baik memperoleh uang dengan harga rendah (rugi) daripada udang mati karena penyakit. Kerugian yang didapat apabila udang mati semua akan lebih banyak lagi bahkan gagal total.

KESIMPULAN
Keberadaan tambak garam di sebelah atau berdekatan dengan tambak budidaya ikan dan udang memiliki pengaruh pada perkembangbiakan udang windu. Udang windu yang dibudidaya tidak bisa besar dan pada saat panen hasil yang didapat sedikit. Hal tersebut dikarenakan kadar garam untuk udang yang masih muda, berumur 1-2 bulan memerlukan kadar garam 15 - 25 permil dan pertumbuhan udang dewasa tetap baik pada kadar garam 25-30 permil. Pada kadar garam lebih dari 40 permil udang sudah tidak bisa tumbuh lagi. Sedangkan Salinitas air dalam waduk/tambak pembuatan garam mencapai 35-50 permil. Jadi, kemungkinan memperoleh hasil panen yang memuaskan dan sesuai harapan kecil.
Solusi yang ditawarkan adalah pertama, penempatan budidaya udang windu seharusnya lebih dijauhkan dari tambak tempat pembuatan garam. Tidak perlu memutuskan kontrak sewa dengan petani tambak garam karena pastinya akan menimbulkan kerugian disatu pihak saja. Ke-dua  pergantian atau pertukaran air. Ke-tiga penggunaan kincir angin atau pengadukan air secara mekanis. ­Ke-empat pemindahan udang ke tambak yang lebih kondusif. Ke-lima adalah memanen udang secara total apabila sebagian besar udang terserang penyakit.

DAFTAR RUJUKAN
Suyanto, S. Rachmatun, dkk. 2001. Budidaya Udang Windu. Jakarta: Penebar Swadaya anggota IKAPI.
Ahmad, Taufik, dkk. 2000. Budidaya Bandeng Secara Intensif. Jakarta: Penebar Swadaya anggota IKAPI.
Soeseno, Slamet. 1988. Budidaya Ikan dan Udang dalam Tambak. Jakarta: PT Gramedia.
Mizar, M.Alfian, dan Suniarto, Yuni. 2009. Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Pantura melalui Implementasi Kincir Angin dalam Meningkatkan Produksi Garam. Malang: LPM UM.
Purbani, Dini. 2011. Proses Pembentukan Kristalisasi Garam. Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Nonhayati Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan.
Wirasantosa, Sugiarta. 2005. Prototip Informasi Iklim dan Cuaca untuk Tambak Garam. Jakarta: Badan Riset Kelautan dan Perikanan Badan Meteorologi & Geofisika.
WordPres. 2012. Kabupaten Pasuruan Miliki Banyak Bisnis Unggulan, (online), (www.pasuruankab.go.id), diakses tanggal 3 Desember 2012.
Warsito, Dian Tugu. 2011. Pemanfaatan Tambak Marginal Menjadi Lahan Garam, (online), (www.infodaerah.co.id), diakses tanggal 3 Desember 2012.
Kartuji, 2011. Program Bantuan Petani Garam Dituding Tidak Tepat, (online), (pastinyus.blogspot.com), diakses tanggal 3 Desember 2012.
Daur, 2012. Proses Pembuatan Garam dari Air Laut Kraton Pasuruan, (online), (mbahdaur.blogspot.com), diakses tanggal 3 Desember 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar